Selamat Datang di Web Juprani, S.Pd jangan lupa tinggalkan komentarnya semoga bermanfaat terima kasih... dan bagi yang butuh PTK silahkan hub saya

PROPOSAL PTK BY : JUVE

iklan atas disini
Iklan tengah disini
BAB  I
P E N D A H U L U A N

A.    Latar Belakang
Sesuai dengan zamannya, guru yang bermutu harus mempunyai kemampuan profesional. Dalam hal ini Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (1979) merumuskan tiga kemapuan penting yang harus dimiliki oleh seorang guru yang profesional yaitu (1) kompetensi profesional, (2) kompetensi personal, dan (3) kompetensi sosial (Arikunto, 1990:238-239). Guru merupakan kunci dalam meningkatkan mutu pendidikan dan mereka berada di titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan pada perubahan-perubahan kualitatif. Berbagai usaha dilakukan dalam peningkatan mutu pendidikan tidak akan menunjukkan hasil yang berarti apabila tetap mengesampingkan guru. Guru dengan keterlibatannya dalam pembaharuan kurikulum, pengembangan metode-metode mengajar, penyediaan sarana dan prasarana akan mengubah wajah pendidikan itu sendiri.
Sumber daya manusia yang profesional dapat diperoleh melalui berbagai pengembangan secara menyeluruh. Potensi sumber daya manusia pada hakikatnya adalah salah satu modal dasar pembangunan nasional. Namun selama ini masih dirasakan bahwa potensi sumber daya manusia tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal mengingat sebagian besar dari angkatan kerja, tingkat keterampilan dan pendidikannya masih rendah. Rendahnya pendidikan akan sangat berpengaruh besar terhadap sikap mental tenaga kerja yang berakibat rendahnya unjuk kerja Untuk mendapatkan manusia-manusia potensial dibutuhkan kelembagaan pendidikan yang tangguh, yaitu yang dapat memberikan bekal kepada siswa dalam mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan selanjutnya.

1
 
IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara menyeluruh. Dengan demikian IPA bukan hanya penguasaaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,  konsep-kosnep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Siswa harus terbiasa meneliti setiap peristiwa yang terjadi pada dirinya dan juga alam sekitarnya.(Muhamad Samsul Wardani, 2008: 1).
Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh penulis pada pembelajaran IPA  di kelas III   SDN Cipacung   Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang tentang konsep Perubahan Sifat Benda    ditemukan masalah dalam pembelajaran yaitu siswa tidak antusias atau tidak semangat didalam mengikuti pembelajaran,  kemudian metode yang digunakan guru tidak membuat siswa untuk belajar mengalami langsung. Di dalam pembelajaran guru hanya menjelaskan sesuai yang tertera di buku paket dan juga tidak menggunakan alat peraga yang konkret hanya sebatas gambar-gambar pada buku paket,  sehingga nilai rata-rata Mata Pelajaran IPA   pada hasil Ulangan formatif  kelas III   pada materi Perubahan Sifat Benda    tahun  pelajaran 2011 / 2012 masih rendah, terlihat dari 20 siswa dengan nilai rata-rata yaitu 5,15.
Jelas sekali terlihat bahwa adanya perbedaan tentang kenyatan di lapangan dengan tujuan yang diharapkan pada kurikulum, juga dengan harapan yang diinginkan guru dan peneliti pada umumnya yaitu siswa dapat mengikuti setiap pembelajaran dengan antuasias atau semangat sehingga dapat mencapai nilai akhir denga rata-rata <7.
Suatu kenyataan bahwa pembelajaran Mata pelajaran IPA  yang dialami selama ini masih jauh dari yang diharapkan, yaitu dilaksanakan guru dengan lebih menekankan pada metode ceramah yang tidak kreatif. Sering dilaksanakan dalam suatu kegiatan pembelajaran, sehingga aktivitas pembelajaran selalu didominasikan oleh  guru. Siswa menjadi pelajar yang pasif, dan cepat merasa bosan dalam belajar. Hal ini dikarenakan pula langkanya penggunaan/pemanfaatan alat-alat penunjang pembelajaran. Siswa hanya hanya menjadi pendengar, penulis ringkasan atau pencatat materi yang ada pada buku sumber.
Penggunaan alat peraga dan metode yang bervariasi merupakan solusi dari masalah yang ada pada penelitian, sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA  kelas III  .
Dalam pelaksanaan pembelajaran, penggunaan metode yang efektif adalah penggunaan metode yang disesuaikan dengan karakteristik Kompetensi Dasar (KD) yang akan diajarkan oleh seorang guru, dengan tetap memperhatikan latar belakang siswa serta faktor-faktor lain yang dapat mendukung proses pembelajaran tersebut.
Metode demonstrasi atau metode praktek, merupakan salah satu dari sekian banyak metode, dalam metode demonstrasi atau praktek, siswa akan di tuntut untuk langsung berhadapan dengan bahan ajar, siswa langsung mengamati, siswa langsung berhadapan dengan benda yang diamati sebagai bahan ajar, dengan demikian siswa belajar langsung. Metode demonstrasi di gunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa melakukan suatu proses, baik secara sendiri maupun kelompok. Melalui metode ini dapat di kembangkan keterampilan siswa selama kegiatan belajar berlangsung. (Depdikbud,1995 : 109)
Dengan menerapkan  metode demonstrasi dalam pembelajaran dimaksudkan bahwa guru dan siswa menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Guru dapat merangsang siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran. Umpan balik yang efektif merupakan bagian integral dari sebuah dialog instruksional antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan dirinya sendiri, dan bukanlah sebuah praktik yang terpisahkan (Akhmad Sudrajat, 2009)
Berdasarkan data tersebut peneliti tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas, dalam upaya memperbaiki nilai mata pelajaran  IPA  dengan judul penelitian “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA  tentang Konsep Perubahan Sifat Benda   dengan menggunakan Metode Demonstrasi pada Siswa  Kelas III   SDN Cipacung  Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang”.

Dengan demikian peneliti berkesimpulan bahwa penelitian ini mutlak harus dilaksanakan, kerugian yang sangat besar bila penelitian ini tidak dalaksanakan, bagi guru dan siswa. Guru tidak akan bisa mengembangkan kreatifitasnya dalam mengajar dan bagi siswa sendiri tidak akan bisa menerima pelajaran secara optimal.

1.      Identifikasi Masalah

Dari hasil diskusi peneliti dengan teman sejawat, ada beberapa masalah yang terjadi pada KBM, sebagai berikut :

1)     Siswa sukar menangkap penjelasan guru
2)      Ketika Guru menyampaikan materi pembelajaran, siswa kurang memahami materi pembelajaran.
3)      Ada siswa yang mengantuk saat guru menjelaskan materi pelajaran
4)      Kurangnya minat siswa untuk belajar.

  1. Analisis Masalah

Melalui hasil penelitian dengan bantuan teman sejawat diketahui bahwa yang menjadi faktor penyebab kurang aktifnya siswa selama pembelajaran berlangsung, dan  rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajran sebagai berikut :

1)      Selama menjelaskan, guru tidak pernah bertanya
2)      Penjelasan guru tidak jelas dan cepat
3)      Bahasa yang digunakan guru sulit dipahami siswa
4)      Guru tidak memberikan pengalaman langsung kepada siswa
 ( demonstrasi )
5)      Guru kurang memberikan penguatan

B.     Rumusan Masalah

Pada penelitian ini peneliti merumuskan beberapa permasalahan yang sekiranya relevan dan judul penelitian menjadi lebih jelas, maka permasalahan penelitian dirumusakan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

  1. Apakah  metode demonstrasi  dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPA  konsep Perubahan Sifat Benda   di Kelas III SDN Cipacung  Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang ?
  2. Apakah  metode demonstrasi  dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA  konsep Perubahan Sifat Benda  di kelas III   SDN Cipacung  Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang ?


C.    Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
a.    Ingin meningkatkan aktivitas siswa dengan menggunakan metode demonstrasi konsep Perubahan Sifat Benda   pada mata pelajaran IPA .
b.    Ingin meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode demonstrasi konsep Perubahan Sifat Benda   pada mata pelajaran IPA .

D.    Manfaat Perbaikan

  1. Manfaat Bagi Peneliti
a.       Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat digunakan dalam mengajar dan sebagai acuan untuk proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, dan
b.      Sebagai tolak ukur dalam pelajaran  IPA   siswa SD


  1. Manfaat Bagi Guru
a.       Meningkatkan kreatifitas.
b.      Menciptakan guru professional.
c.       Meningkatkan pola ajar yang bermutu.

  1. Manfaat Bagi Siswa :
a.       Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran
b.      Siswa terlibat aktif dalam belajar
c.       Meningkatan hasil belajar siswa

  1. Manfaat bagi Sekolah
a.       Mengetahui masalah proses belajar di sekolah
b.      Untuk bahan refleksi terhadap kemajuan sekolah
c.       Untuk meningkatkan mutu kualitas dan kuantitas sekolah

















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, terdapat 2 (dua) jenis pendekatan dalam pembelajaran, yaitu :
  1. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach).
  2. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Proses belajar merupakan bentuk prilaku manusia yang sangat penting dan utama bagi kelangsungan hidup manusia. Proses belajar membantu manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnyaagar ia dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Banyak pengertian belajar yang dikemukakan oleh para ahli, salah satunya menurut Gagne (1984), bahwa belajar adalah suatu proses di mana suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman ( Strategi Belajar Mengajar, 2004:2.3), Juga menurut Gagne (1984) belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah akibat pengalaman.

7
 
Dengan menjalani proses, akan terjadi perubahan dalam diri seseorang, apabila sebelum menjalani proses belajar seseorang belum mempunyai pengetahuan akan sesuatu hal dan belum mepunyai keterampilan tertentu dan bersikap tidak menolak pada infomasi yang diberikan, maka setelah menjalani proses belajar  Ia akan menjadi tahu atau lebih tahu, dan menjadi trampil atau lebih trampil. Proses perubahan yang terjadi harus relative bersifat menetapkan tidak terjadi hanya pada saat ini Nampak, tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi pada masa mendatang
Pembelajaran berorientasi pada aktifitas siswa menghendaki keseimbangan antara aktifitas fisik, mental termasuk emosional dan aktifitas intelektual. (Wina Sanjaya; 2006)
Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai berikut: (1) Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil; (2) mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa. (3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu di antara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, atau pcndidik; (4) Memberi peluang guru untuk unjuk kerja rekayasa pedagogis.
Perkembangan mental peserta didik di sekolah antara lain meliputi kemampuan untuk bekerja secara abstraksi menuju konseptual. Implikasinya pada pembelajaran, harus memberikan pengalaman yang bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi. Pembelajaran harus memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik. Untuk menumbuhkan minat siswa mempelajari sesuatu dalam pembelajaran diperlukan metode tertentu yang harus dilakukan guru
Metode merupakan sesuatu yang penting dalam upaya guru menyampaikan materi pembelajaran dengan sempurna, dalam menyampaikan bahan ajar yang di maksud merupakan bahan ajar secara umum, baik mata pelajaran IPA   maupun mata pelajaran yang lain.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode mengajar, prinsip tersebut terutama berkaitan dengan faktor perkembangan kemampuan siswa, Udin S Winataputra (2003: 4.12) diantaranya :
a.             Metode pengajaran harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa  ingin tahu siswa  lebih jauh terhadap materi pelajaran (curriosity).
b.            Materi belajar harus memungkinkan dapat memberikan peluang untuk berekpesi yang kreatif dengan seni.
c.             Materi belajar harus memungkinkan siswa melalui pemecahan masalah.
d.            Materi belajar harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji kebenaran sesuatu ( sikap skeptis).
e.             Metode mengajar harus memungkinkan siswa melakukan penemuan (berinkuiri) terhadap sesuatu permasalahan.
f.             Metode mengajar harus memungkinkan siswa mampu menyimak.
g.            Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri (independen learning).
h.            Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara bekerja sama (cooperative learning ) 
i.              Metode harus memungkinkan siswa lebih termotivasi dalam belajar
Untuk pelajaran IPA  tentang Perubahan Sifat Benda  , metode yang tepat adalah metode demonstrasi. Dengan metode tersebut siswa dapat tertantang untuk mengalami langsung kegiatan dan akan menciptakan suasana belajar yang hidup sehingga pemahaman siswa tentang pelajaran akan tercapai dengan baik. Dalam metode demonstrasi atau praktek biasanya guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok, dan tiap kelompok biasanya terdiri dari 4-5 orang. Jumlah anggota kelompok di batasi, hal ini dilakukan untuk keefektifan kerja siswa.
Dengan menerapkan  metode demonstrasi dalam pembelajaran dimaksudkan bahwa guru dan siswa menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Guru dapat merangsang siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran. Umpan balik yang efektif merupakan bagian integral dari sebuah dialog instruksional antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan dirinya sendiri, dan bukanlah sebuah praktik yang terpisahkan (Akhmad Sudrajat, 2009)

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

A.    Subjek Penelitian
Subyek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas III Sekolah Dasar yang berjumlah 20 siswa, yang terdiri dari 07 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksankana di SD Negeri Cipacung  Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang Provinsi Banten, dari tanggal           04 Juni 2012 sampai dengan tanggal 09 Juni 2012 dengan jadwal sebagai berikut :
Subjek  Penelitian yaitu :
F Kelas                           : III
F Mata Pelajaran            : IPA   
F Tema                           : Perubahan Sifat Benda  
F Siklus                          : 1 dan 2
Waktu Pelaksanaan :
F Siklus 1           pada tanggal 04 Juni 2012 Jam Keempat
F Siklus 2           pada tanggal 09 Juni 2012 Jam Keempat

B.       Deskripsi Persiklus
Dalam melaksankan penelitian ini peneliti memilih model Kemmis dan MC Taggart, karena tidak terlalu sulit untuk dilakukan oleh guru. Model ini terdiri dari empat tahapan yaitu : rencana, tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi, sebagai berikut :

a.      Pra Siklus
      Pada proses penelitian pra siklus kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :




10
 
 
1)      Observasi
            Kegiatan ini dimaksudkan untuk memantau KBM  yang sedang berlangsung pada pembelajaran Perubahan Sifat Benda  di kelas III .
2)      Refleksi
                  Kegiatan ini dimaksudkan untuk menganalisis dan mengevaluasi tentang permasalahan yang diperoleh selama KBM , baik yang dirasakan guru maupun dari hasil pengamatan, dan selanjutnya merumusakn siklus I.

b.        Siklus I
                  Pada proses penelitian siklus I kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1)      Rencana
                  Kegiatan ini peneliti sebagai model menyusun rencana kegiatan tindakan pemecahan masalah berdasarkan hasil refleksi pada pra siklus yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi.
                  Dalam kegiatan ini peneliti dan guru merancang kegiatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran yaitu :
a)      Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Konsep Perubahan Sifat Benda  .
b)      Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS).
c)      Membuat instrumen penelitian.
d)     Menyiapkan media dan alat pembelajaran yang dapat menunjang pembelajaran ( alat peraga sederhana ).
2)      Tindakan
            Kegiatan pada proses tindakan ini peneliti sebagai model  melaksanakan KBM berdasarkan hasil refleksi dari pra siklus menggunakan metode demonstrasi sebagai upaya dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran.
                        Langkah-langkah pembelajaran tersebut antara lain adalah :
a)      Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga sederhana  di dalam kelas.
b)      Melaksanakan pembelajaran menggunakan metode yang sesuai dalam hal ini menggunakan metode demonstrasi
c)      Melakukan demonstrasi untuk menentukan Perubahan Sifat Benda .
d)     Evaluasi dan tindak lanjut

3)      Observasi
            Kegiatan ini peneliti sebagai model berkolaborasi dengan teman sejawat sebagai observer  untuk memantau dan mengamati KBM  yang sedang berlangsung dengan menggunakan metode demonstrasi pada pembelajaran Perubahan Sifat Benda  di kelas III , sebagai upaya dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran.
4)      Refleksi
                                          Pada tahapan ini peneliti sebagai model berdiskusi dengan teman sejawat untuk menganalisis dan mengevaluasi tentang permasalahan-permasalahan yang diperoleh selama KBM , baik yang dirasakan peneliti maupun dari hasil pengamatan. Apakah ada peningkatan atau belum, apabila hasil belajar siswa belum maksimal maka dilanjutkan ke siklus berikutnya.

c.         Siklus II
                  Pada proses penelitian siklus II kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1)      Rencana
                  Kegiatan ini peneliti sebagai model menyusun rencana kegiatan tindakan pemecahan masalah berdasarkan hasil refleksi pada pra siklus yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi.
                  Dalam kegiatan ini peneliti dan guru merancang kegiatan yang akan dilakukan dalam pembelajaran yaitu :
a.      Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Konsep Perubahan Sifat Benda  dengan menggunakan metode demonstrasi
b.      Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS).
c.      Membuat instrumen penelitian.
d.      Menyiapkan media dan alat pembelajaran yang dapat menunjang pembelajaran ( alat peraga yang ada di lingkungan sekitar yang sehari-hari ditemui siswa ).
2)      Tindakan
            Kegiatan pada proses tindakan ini peneliti sebagai model  melaksanakan KBM berdasarkan hasil refleksi dari siklus I menggunakan metode demonstrasi sebagai upaya dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran.
                        Langkah-langkah pembelajaran tersebut antara lain adalah :
a)      Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga sederhana  dan metode demonstrasi di dalam kelas.
b)      Melaksanakan pembelajaran menggunakan metode bervariasi
c)      Membagi siswa kedalam beberapa kelompok untuk melakukan demonstrasi/praktek dalam menentukan Perubahan Sifat Benda  di dalam kelompoknya
d)     Membimbing siswa dalam melakukan demonstrasi untuk menentukan Perubahan Sifat Benda .
e)      Membimbing siswa dalam membuat kesimpulan hasil demontrasi tentang Perubahan Sifat Benda , kemudian setiap perwakilan kelompok membacakan di depan kelas.
f)       Evaluasi dan tindak lanjut
3)      Observasi
            Kegiatan ini peneliti sebagai model berkolaborasi dengan teman sejawat sebagai observer  untuk memantau dan mengamati KBM  yang sedang berlangsung dengan menggunakan metode demonstrasi pada pembelajaran Perubahan Sifat Benda  di kelas III , sebagai upaya dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran.


4)      Refleksi
                                          Pada tahapan ini peneliti sebagai model berdiskusi dengan teman sejawat untuk menganalisis dan mengevaluasi tentang permasalahan-permasalahan yang diperoleh selama KBM , baik yang dirasakan peneliti maupun dari hasil pengamatan. Apakah ada peningkatan atau belum, apabila hasil belajar siswa belum maksimal maka dilanjutkan ke siklus berikutnya.
























BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.      Deskripsi Per Siklus

1.      Pra Siklus
a.      Observasi
                  Dalam pra siklus ini peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan apa yang telah rencanakan oleh peneliti sebelumnya. Kegiatan yang dilakukan adalah mengamati proses pembelajaran seperti biasa dilakukan oleh guru yang bersangkutan.
                  Aspek yang diamati selama KBM  berlangsung, materi pembelajaran diberikan secara kaku mengikuti apa yang ada pada buku paket, penggunaan alat peraga sebagai alat bantu dalam mengajar belum tampak, metode yang digunakan dalam proses pembelajaran hanya mengunakan metode ceramah tanpa lebih melibatkan siswa dan hasil belajar siswa masih kurang.
                  Berdasarkan hasil observasi pada kegiatan pra siklus terlihat aktivitas belajar siswa masih rendah, dari 20 siswa kelas 5 hanya beberapa siswa saja yang aktif dan semangat dalam belajar. Jika diprosentasekan hanya 11,87 % siswa yang aktif dan 88,12 % siswa tidak aktif dan tidak semangat dalam belajar itu membuktikan pembelajaran belum optimal.

15
 
                  Pada kegiatan tes akhir terlihat bahwa hasil belajar siswa masih rendah itu terbukti dari nilai rata-rata 5,15 untuk pembelajaran konsep gaya magnet.  Untuk siswa yang mendapatkan nilai tertinggi yaitu nilai 7 hanya 4 atau 20% dari jumlah siswa sebanyak 20 orang, dan kebanyakan siswa hanya mendapatkan nilai 4 yaitu berjumlah 8 orang atau 40%, dan sisanya yaitu siswa yang mendapatkan nilai 5 sebanyak 25% dan nilai 6 sebanyak 15%. Dari hasil analisis tersebut menunjukan bahwa hasil belajar siswa belum optimal.
b.      Refleksi
                        Hasil dari pemantauan di atas kemudian dianalisis hal-hal yang masih perlu diadakan perbaikan dan penyempurnaan. Hasil analisis terhadap hal-hal yang masih perlu diadakan perbaikan dan penyempurnaan dalam proses belajar mengajar masih perlu adanya perbaikan dan penyempurnaan, dalam pelaksanaan pembelajaran lebih baik memakai alat peraga sederhana agar materi pelajaran lebih jelas dan mudah difahami serta lebih lama di ingat oleh siswa dan metode yang digunakan dalam pembelajaran sebaiknya tidak hanya metode ceramah saja tetapi juga menggunakan metode yang sesuai yang sesuai dengan materi. Untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar sebaiknya diadakan tes sesuai materi.

2.      Siklus I
a.      Rencana
Berdasarkan hasil pre-tes bahwa konsepsi awal siswa kelas III tentang Perubahan Sifat Benda  jumlah siswa yang memiliki konsepsi konsisten dengan konsep ilmiah masih rendah, maka peneliti merencanakan untuk mengadakan diskusi dengan teman sejawat untuk menggunakan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran IPA  tentang Perubahan Sifat Benda  . Berdasarkan hasil refleksi pada pra siklus, maka peneliti sebagai model dan teman sejawat merencanakan kegiatan tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus I.
b.      Tindakan
                  Tindakan ini merupakan implementasi dari rencana pembelajaran yang telah dibuat dengan memperhatikan kekurangan-kekurangan dari tindakan pra siklus dengan perbaikan-perbaikan yang dilaksanakan pada siklus I ini, yaitu melalui proses pembelajaran, peneliti sebagai model berusaha mengubah konsepsi siswa tentang Benda dan sesuai dengan konsepsi ilmiah, dan pelaksanaannya menggunakan metode demonstrasi yang dilakukan peneliti sebagai model dan siswa dalam proses pembelajaran.
            Pada pelaksanaan tindakan I ini, sebelum pelajaran dimulai siswa berdo’a bersama-sama. Pertama‑tama peneliti memberitahukan kepada siswa tentang materi yang akan di ajarkan, kemudian melakukan apersepsi dengan bertanya kepada siswa ”kenapa es krim bisa meleleh ketika terkena panas matahari?” dari jawaban siswa peneliti melanjutkan dengan materi yang akan diajarkan.
Sebagai langkah awal peneliti menyiapkan alat dan bahan berupa kertas, korek api, es batu, lilin dan sayuran kemudian peneliti melakukan demonstrasi.
Selanjutnya peneliti memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati demonstrasi tersebut.
Peneliti membimbing siswa dalam mengambil kesimpulan untuk menemukan konsep sendiri, dan siswa menjawab soal-soal post-tes setelah pembelajaran berakhir.

c.       Observasi
Hasil pengamatan selama proses belajar mengajar berlangsung adalah selama proses belajar mengajar berlangsung, pembelajaran diberikan lebih menarik dikarenakan menggunakan demontrasi dalam pembelajaran.
Penggunaan metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar sudah tampak, tetapi belum optimal, sehingga keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar sudah tampak tetapi belum optimal juga.
Metode yang digunakan lebih bervariasi, sehingga aktivitas anak lebih baik meskipun masih ada sebagian siswa yang tidak terlihat aktif secara penuh. Hasil belajar siswa ada peningkatan meskipun belum memuaskan.
Berdasarkan hasil observasi siklus I terlihat aktivitas siswa dalam pembelajaran sudah ada peningkatan, tetapi kerjasama dan komunikasi siswa masih belum maksimal. Jika diprosentasekan siswa yang aktif dalam belajar 61,25% dan siswa yang tidak aktif 38,75% itu membuktikan aktivitas siswa dalam pembelajaran ada peningkatan, akan tetapi belum optimal.
Pada tes akhir pembelajaran siklus I ini terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas III sebanyak 20 orang dalam pembelajaran sudah mulai terlihat ada kemajuan dan peningkatan itu terlihat dari nilai rata-rata sebesar 5,15 pada pra siklus menjadi 5,45 pada pembelajaran siklus I. Untuk siswa yang mendapatkan nilai tertinggi yaitu nilai 7 hanya 4 siswa atau 20% dari jumlah siswa sebanyak 20 orang, dan nilai terendah yaitu nilai 4 berjumlah 4 siswa atau 20%, dan sisanya yaitu siswa yang mendapatkan nilai 5 sebanyak 35% dan nilai  6 sebanyak 25%.  Analisis tersebut membuktikan hasil belajar siswa ada peningkatan tetapi belum optimal.
d.      Refleksi
Hasil pemantauan pada siklus I kemudian dianalisis terhadap hal-hal yang masih perlu diadakan perbaikan dan penyempurnaan yaitu selama kegiatan belajar mengajar, metode dan alat peraga yang digunakan sesuai dengan materi tetapi siswa msih pasif karena dalam pembelajaran hanya guru saja yang melakukan demonstrasi tapi siswa tidak di libatkan.
Pada kegiatan akhir pembelajaran peneliti sebagai model  belum melakukan generalisaasi dari pokok-pokok materi yang diberikan. Hasil belajar siswa menunjukan kemajuan dibandingkan dengan pra siklus.

3.      Siklus II
a.      Rencana
Berdasarkan refleksi pada siklus II, maka untuk mengatasi kekurangan dan kelemahan, yaitu dengan merencanakan kegiatan siklus II sebagai upaya untuk meningkatkan konsepsi siswa pada pembelajaran tentang konsep Perubahan Sifat Benda di kelas III

b.      Tindakan
Tindakan ini merupakan implementasi dari rencana pembelajaran yang telah dibuat dengan memperhatikan kekurangan-kekurangan dari tindakan siklus I yang telah  dilaksanakan. Pada tindakan ini, yaitu meningkatkan konsepsi siswa tentang Perubahan Sifat Benda sesuai dengan konsep ilmiah dan pelaksanaan pendekatan pemahaman dengan menggunakan metode demonstrasi sebagai upaya upaya untuk meningkatkan konsepsinya sendiri.
Pada pelaksanaan tindakan II ini, sebelum pelajaran dimulai siswa berdo’a bersama-sama seperti biasanya. Pertama‑tama peneliti memberitahukan kepada siswa tentang materi yang akan di ajarkan, kemudian melakukan apersepsi dengan cara bertanya kepada siswa ”apakah benda cair bisa menjadi benda padat ?’ dari jawaban siswa selanjutnya peneliti melanjutkan dengan materi yang akan diajarkan.
Sebagai langkah awal peneliti menyiapkan alat dan bahan kertas, korek api, es batu, lilin dan sayuran sebagai bahan demonstrasi untuk mengetahui perubahan sifat benda, kemudian peneliti membagi siswa kedalam beberapa kelompok untuk melakukan demonstrasi bersama teman kelompoknya. Dalam kegiatan demonstrsi tersebut peneliti juga menyiapkan lembar pengamatan yang diperlukan sesuai dengan materi pembelajaran.
Selanjutnya peneliti menjelaskan langkah-langkah dalam melakukan demonstrasi tentang perubahan benda dan sifatnya. Siswa mendengarkan penjelasan guru dengan seksama, Kemudian siswa mengadakan demonstrasi bersama teman kelompoknya untuk mengetahui dan mengidentifikasi perubahan sifat benda dan mencatatnya dalam buku tugas masing-masing.
Peneliti mengamati dan membimbing setiap kelompok dalam melakukan demonstrasi dalam kelompoknya dan memancing siswa berdiskusi berdasarkan eksperimen yang dilakukan. Siswa melakukan Tanya jawab di dalam kelompoknya tentang perubahan benda dan sifatnya berdasarkan petunjuk yang telah dijelaskan.
Peneliti membimbing setiap kelompok untuk membuat kesimpulan hasil demonstrasi tersebut. Setelah itu setiap kelompok melaporkan hasil kerja kelompoknya tersebut di depan kelas secara bergiliran.
Peneliti menunjuk kelompok yang terbaik untuk mendemonstrasikan perubahan benda dan sifatnya di depan kelas.
Peneliti membimbing siswa dalam mengambil kesimpulan untuk menemukan konsep sendiri, peneliti menyuruh siswa menyebutkan kegunaan benda dalam kehidupan sehari-hari dan siswapun menyebutkannya secara bergiliran
Pada kegiatan akhir siswa menjawab soal-soal post-tes yang telah disediakan peneliti.

c.       Observasi
Setelah dilakukan observasi dari tugas sasaran atau tujuan penelitian telah tercapai, dengan dilaksanakannya proses belajar mengajar dengan menggunakan metode demonstrasi, maka konsepsi siswa yang konsisten dengan konsep ilmiah mengalami perubahan sekalipun belum optimal.
Proses pembelajaran yang dilakukan semakin lancar dan antusias siswa sangat baik, hal ini karena peneliti sebagai model mengajar dengan menggunakan metode demonstrasi secara optimal. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar lebih bervariasi, dan aktivitas siswa dalam melakukan demonstrasi terlihat semakin meningkat.
Pengadaan dan penggunaan alat peraga  sudah disiapkan secara terencana sesuai dengan tujuan pembelajaran, dalam proses belajar mengajar siswa berani dalam berekspresi menjalankan demonstrasi dengan baik. Pada kegiatan akhir proses belajar mengajar peneliti sebagai model melaksanakan generalisasi dari materi yang di ajarkan. Hasil belajar siswa ada peningkatan dibanding dengan siklus II, menunjukan kemajuan dari siklus sebelumnya.
Berdasarkan hasil observasi pembelajaran siklus II terlihat bahwa aktivitas belajar dan semangat siswa dan juga interaksi siswa didalam kelompok sudah menunjukan peningkatan yang signifikan dalam pembelajaran  yaitu 95%  siswa aktif dalam belajar dan 5% siswa yang tidak aktif dalam belajar pada kegiatan pembelajaran siklus II ini. Hal itu membuktikan bahwa aktivitas belajar siswa pada pembelajaran siklus II ini mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan siklus sebelumnya
Pada tes akhir pembelajaran siklus II juga terlihat hasil belajar siswa meningkat dari siklus sebelumnya dengan nilai rata-rata sebesar 8,35, dan nilai terendah pada pembelajaran siklus II ini yaitu nilai 6  ada 2 siswa atau 10% dan nilai tertinggi yaitu nilai 8,7 sebanyak 15 siswa atau 75% dari jumlah siswa kelas II  yaitu 20 orang. Hasil belajar siswa pada siklus ini menunjukan peningkatan yang signifikan sebesar 75% dibandingkan hasil belajar pada siklus sebelumnya.
d.      Refleksi
Hasil pemantauan pada siklus II kemudian dianalisis terhadap hal-hal yang masih perlu di adakan perbaikan dan penyempurnaan , selama kegiatan belajar mengajar metode dan alat peraga yang digunakan sesuai dengan materi. Pengorganisiran siswa oleh peneliti sudah bisa dikatakan optimal terlihat dari ketertiban siswa dalam melakukan demonstrasi. Sehingga menciptakan suasana belajar siswa aktif dan kelihatan lebih kondusif.
Pada kegiatan akhir pembelajaran peneliti melakukan generalisaasi dari pokok-pokok materi yang diberikan pada saat sudah kembali ke kelas dan siswa memberi perhatian secara penuh. Hasil belajar siswa menunjukan kemajuan yang signifikan dibandingkan dengan siklus sebelumnya.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil pemantauan diatas kemudian dianalisis secara umum untuk melihat seberapa jauh perubahan atau peningkatan konsepsi siswa yang diperoleh dari kegiatan tindakan kelas tentang konsep Perubahan Sifat Benda dengan menggunakan metode demonstrasi.
Pada kegiatan pra siklus siswa kurang aktif dalam belajar dan hasil belajar siswa rendah dengan nilai rata-rata 5,15, itu dikarenakan materi pembelajaran ketika KBM berlangsung diberikan secara kaku hanya mengikuti apa yang ada pada buku paket. Penggunaan peraga sebagai alat bantu belum tampak dan metode yang digunakan tidak bervariasi.
Dari hasil temuan di atas peneliti memperbaiki pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi. Hasil pembelajaran terlihat adanya peningkatan aktivitas siswa dan juga hasil belajar siswa di setiap siklusnya. Pada kegiatan siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa 5,45, dan siklus II 8,35. Terjadi perubahan aktivitas dan hasil belajar siswa yang signifikan dari setiap siklusnya dikarenakan pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan metode demonstrasi sehingga membuat siswa antusias dan semangat dalam belajar.
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar dalam keseharian hendaknya menggunakan alat bantu atau sarana pembelajaran sebagai alat bantu dalam mengajar. Dalam menggunakan strategi dan metode lebih bervariasi, dan dengan melibatkan siswa untuk berpartisipasi dalam melakukan percobaan baik dalam kelompok maupun secara individu.
Adapun rangkaian  hasil selama pelaksanaan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut:
Tabel 1 : Rekapitulasi Hasil Test Siswa  Kelas III Pada Pembelajaran IPA Konsep Perubahan  Sifat Benda Dengan Menggunakan Metode Demonstrasi
NO
NAMA SISWA
NILAI
Pra Siklus
Siklus
I
Siklus
II
1
Siti Mulyanti
4
4
6
2
Sapriah
5
6
8.7
3
Dini Sa'baniati
5
6
8.7
4
Mas'amatul Faujiah
5
6
8.7
5
Nurhidayati
4
4
8.7
6
Suhaila Amatul Hasnah
5
5
8.7
7
Sinawati
6
5
8.3
8
Melniwati
4
4
8.7
9
Anisa Singsih
4
5
8.3
10
Samsul Ma'ruf
6
6
8.7
11
Tiara Agis Hendarti
6
6
8
12
Santi Fatimah
4
5
8.7
13
Obi Hikmatullah
7
7
8.7
14
Ahmad Dava Muta'ali
5
5
8.7
15
Ahmad Davi Mutawali
4
5
8.7
16
M.Aulia Nanda Saputra
7
7
8.7
17
Muzzaki Ulwan
7
7
8.7
18
Saskia Fitriani
4
5
8.7
19
Masayu Awaliyah
4
4
6
20
Dani Riyuga
7
7
8.7
Jumlah
103
109
167.1
Rata-rata
5,15
5,45
8.35

         Berdasarkan tabel di atas terlihat hasil belajar siswa meningkat pada setiap siklusnya, pada pra siklus nilai rata-rata siswa 5,15, hal itu dikarenakan masih banyak siswa yang nilainya rendah dan hasil belajar siswa belum optimal. Setelah di adakan perbaikan pada setiap siklus hasil belajar siswa meningkat, hal itu terlihat pada siklus I 5,45 nilai siswa ada peningkatan tapi belum optimal, dan siklus II 8,35 pembelajaran siklsus II ini membuktikan hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan siklus sebelumnya. Untuk lebih jelasnya peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari grafik dibawah ini.
Grafik 4.2 : Grafik Rekapitulasi  Hasil Tes
Siswa Kelas III Pada Pembelajaran IPA Konsep Perubahan  Sifat Benda
Dengan Menggunakan Metode Demonstrasi
      Grafik di atas menunjukan peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. Hal itu dibuktikan pada pra siklus nilai rata-rata siswa 5,15 hasil belajar siswa belum optimal, Siklus I 5,45 nilai siswa ada peningkatan tapi belum optimal, dan siklus II 8,35 pembelajaran siklsus II ini membuktikan hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan siklus sebelumnya. Hal itu terjadi karena metode demonstrasi di gunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa melakukan suatu proses, baik secara sendiri maupun kelompok. Melalui metode ini dapat di kembangkan keterampilan siswa selama kegiatan belajar berlangsung. (Depdikbud,1995 : 109)


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada pembelajaran IPA  konsep perubahan sifat benda di kelas III     dengan menggunakan Metode demonstrasi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan Metode demonstrasi dalam pembelajaran IPA  di kelas III    dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal ini dibuktikan diperoleh data pada aspek prilaku siswa pada siklus I dan  siklus II, Pada siklus I diperoleh data sebesar 61,25%, itu menunjukan aktivitas belajar siswa masih rendah dan pada siklus II sebesar 95%, itu membuktikan pembelajan siklus II mengalami peningkatan yang signifikan dari siklus sebelumnya. Dan hasil belajar siswa dapat meningkat dengan menggunakan metode demonstrasi pada pembelajaran IPA konsep perubahan benda dan sifatnya. Hal ini dibuktikan diperoleh data pada aspek prilaku siswa pada siklus I dan  siklus II, berdasarkan hasil penelitian diperoleh data hasil belajar pada pra siklus nilai rata-rata siswa 5,15 hasil belajar siswa belum optimal, Siklus I 5,45 nilai siswa ada peningkatan tapi belum optimal, dan siklus II 8,35 pembelajaran siklsus II ini membuktikan hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan siklus sebelumnya.


25
 
Dengan demikian penggunaan Metode demonstrasi dalam pembelajaran  IPA konsep perubahan benda dan sifatnya  di sekolah dasar kelas III dapat merangsang siswa untuk memahami dan menemukan pemecahan masalah yang ditemuinya selama proses pembelajaran, menemukan  ide dan gagasan baru dalam memodifikasi keadaaan yang disaksikan langsung, menumbuhkan sifat kritis yang dinyatakan dalam wujud kemauan bertanya dan mengemukakan pendapat  serta melatih keterampilan siswa dalam mengkomunkasikan hasil suatu  kegiatan baik secara lisan maupun secara tertulis. Dengan kata lain, penggunaan Metode demonstrasi dalam pembelajaran lebih meningkatkan kemampuan pemahaman siswa, mengefektifkan pencapaian tujuan, baik tujuan secara umum maupun khusus dan meningkatkan hasil belajar siswa

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dalam pembelajaran IPA  dengan menggunakan Metode demonstrasi, maka peneliti dapat merekomendasikan hal-hal sebagai berikut :

1.      Untuk Guru
Hendaknya guru menggunakan Metode demonstrasi dalam pembelajaran  IPA , untuk meningkatkan kemampuan guru dan siswa dalam pembelajaran, dan menjadikan acuan  untuk menajdi guru yang prosesional, dan juga hendaknya dalam setiap materi disertakan alat peraga agar tidak terjadi verbalisme.

2.      Kepala Sekolah
Kepala Sekolah dapat menjadikan  penggunaan Metode demonstrasi  sebagai bahan pembinaan profesional bagi guru-guru dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran  IPA  di kelas.

3.      Untuk Pengawas
Salah satu tugas pengawas adalah memberikan pengarahan kepada guru-guru dalam kegiatan pembelajaran, maka untuk itu dalam mengarahkan para guru dalam satu gugus tersebut untuk mencoba menerapkan metode edan pendekatan yang bervariasi dalam kegiatan pembelajaran  IPA  untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran, karena hal ini telah berhasil seperti yang telah dilakukan oleh peneliti.
DAFTAR PUSTAKA


Depdiknas. 2006, Kurikukum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Dan Madrasah Ibtidaiyah, Jakarta: CV. Timur Putra Mandiri
Djamarah, S.B. dan Zain Aswan.  (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Kuraesin, E. (2004). Belajar IPA  Untuk Siswa SD. Bandung: PT. Sarana Panca Karya Nusa
Mikarsa, H. Tafik, A. dan Priyanti, P.J. (2002). Pendidikan Anak SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Rukmana, A dan Suryana, A. (2006). Pengelolaan Kelas. Bandung: UPI PRESS
Sa’adah, S. (2009). IPA Kelas III . Solo : Indonesia Jaya
Sudrajat, A. (2009). Umpan Balik Yang Efektif Bagi Siswa. [Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/10/12/umpan-balik-yang-efektif-bagi-siswa/
Wardani I. G. A. K. Dr. Prof, Siti Julaeha, MA, Ngadi Marsinah, M.Pd.(2005).Penetapan Kemampuan Profesional ( Panduan ).Jakarta : Universitas Terbuka
Wardani I. G. A. K. Dr.Wihardit Kuswaya Drs.Med, Noehi Nasution Drs. MA.(2004).Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : Universitas Terbuka

Winataputra Udin S. (2003). Materi Pokok Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Universitas Terbuka.







27
       Juprani, S.Pd. Boedak Cinangka
 
Iklan bawah disini

Buku Tamu


Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini